Senin, 20 Mei 2019

Kesenian Angklung Sered



(koleksi photo Andi kusmayadi) 

        Halo guys , Seni pertunjukan umumnya diartikan sebagai hasil kreatifitas manusia, yang tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. Kadang kitapun termasuk orang yang kreatif guys hehe.. kali ini mimin akan bahas tentang  “ Kesenian Angklung Sered “ yang tumbuh di daerah Kecamatan Singaparna ,KAbupaten Tasikmalaya. Kesenian ini bermula dari Angklung Adu sebagai tangara atau kode (Alat informasi rahasia) Desa Sukasukur,Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya sekitar tahun1918 ( Ketika masa penjajahan). Pertunjukan kesnian ini disajikan oleh 2 kelompok guys, masing masing berjumlah 11 juru angklung dan 4 juru dogdog.
      Didalam pertunjukannya, mereka melakukan gerakan yang meliputi adu betis,pundak, tangan serta mengunangan kekuatan magis sebagai “ senjata “  kekuatannya, dengan gerakan silih sered atau saling dorong mendorong di sampalan. Nah guys pada dekade 1950-an kesenian ini berubah nama menjadi  Kesenian Angklung Sered,unsur magisnya mulai dihilangkan sedikit demi sedikit guys, juga perubahan fungsi yang awalnya sebagai ajang “ perang “, tanding di sebuah sampalan atau lapangan, berubah menjadi ajang hiburan helaran (arak-arakan).
     Setelah masuk pada tahun 1980-an Kesenian Angklung Sered mengalami peralihan generasi guys, serta menyebar ke beberapa daerah luar Desa Sukasukur, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, dan Juga memasuki dunia pendidikan formal. Nah pada awal 1980 sampai 2010,kesenian ini banyak mengalami perkembangan loh. Disamping sebagai ajang hiburan helaran (arak-arakan) , sekarang sudah disajikan dalam panggung pertunjukan. Perkembangannya sangat baik serta ada penambahan seperti personil, alat musik, serta konsep garap.
     Nah gimana guys unikkan Kesenian Angklung sered ini. Memang kesenian yang berada di Jawa Barat sangatlah banyak. Bahkan dari tumbuhan pun bias menjadi alat music uang sangat indah. Salah satunya tumbuhan bambu. Selain di tumbuhan dapat pula dipakai sebagai alat music ataupun peralatan rumah tangga. Banyak sekali kesenian Angklung yang tembuh di Jawa Barat contohnya : Angklung dog-dog (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong Garut), Angklung Badud (Ciamis), Angklung Buncis (Arjasari Banjaran Bandung), Angklung Udjo (Padasuka Bandung), dan Kesenian Angklung Sered di Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya.
      Seperti yang mimin bahas di awal bahwa kesenian ini bermula dari kesenian  Angklung adu yang di lahirkn oleh Aki Rusdi (1918-1930). Setelah 1950 berubah jadi Kesenian Angklung Sered yang dibina oleh Sain (alm) hingga tahun 1980. Setelah itu dilanjutkan oleh Ade Mustofa sampai saat ini. Sekarang kesenian ini juga sering dimainkan oleh perempuan juga loh guys.
      Kesenian Angklung Sered ini dapat dipertujukan dalam acara khitanan anak, penyambutan, peresmian, dan lain-lain. Pada asuhan Sa’id (alm) dari tahun 1950-1980, keberadaan kesenian ini membuka hati masyarakat bahwa mereka memiliki warisan yang harus dikenalkan kepada penerus-penerusnya untuk tetap dilesetarikan. Banyak upaya yang dialkukan salah satunya msuk ke dunia pendidikan.

Okeh guys gimana serukan. Segitu dulu yaa dari mimin hehe.. dadahhhh…

Penulis : Muhamad Wildan Sopiandi (18123004)
Sumber : Skripsi Andy Kusmayadi (0422211)
Sumber photo : Andy Kusmayadi

Sabtu, 18 Mei 2019

Hajat Solokan



(koleksi WordPress.com) 


Hajat solokan artinya ruwatan solokan atau saluran udara.
Upacara tersebut diadakan di bendung Kali Cisangkuy, salah satu
anak Sungai Citarum. Dari bendung tersebut, sebagian debit airnya
kurang lebih tiga kilometer untuk
mengairi sawah penduduk Cikondang dan beberapa kampung lainnya di bagian hilir

    Upacara tersebut diawali dengan menyembelih dua ekor domba jantan di dekat bangunan pembagi air. Kedua kepala domba tersebut masing-masing
dikubur di bagian hulu dan hilir solokan. Sementara dagingnya diolah menjadi rendang dan sebagian lagi dipanggang menjadi sate untuk lauk makan bersama.
Upacara ruwatan masyarakat Cikondang dilakukan dengan melemparkan uang logam. Jumlahnya harus selalu sembilan. Misalkan Rp 90, Rp 900 atau Rp 9.000, Rp90.000 dan seterusnya dalam kelipatan "sembilan". Uang logam tersimpan dalam sesajen yang berisi, bagian atas, nasi tumpeng yang disebut congcot, buah jambe, serutu, rokok kretek, rokok daun kawung, pisang, tebu, gula kelapa, daging mentah. Selain itu,
Ada pula pangradinan yang terdiri dari sirih, gambir, kapur sirih, dan tembakau. Di atas sesajen disimpan rengginang, makanan kecil Biasa Pedesaan yang biasa digunakan sebagai lauk minum kopi atau teh.
      Sambil membuang uang logam ke hulu solokan, amil buang kemenyan. Asapnya mengepul, tinggalkan aroma khas sehingga menimbulkan suasana
magis. Lokasi tambahan yang dijadikan lokasi upacara diadakan pada dua tebing curam. Di sebelah timur yang sekaligus menjadi bibir Sungai Cisangkuy adalah tebing Cihideung tinggi sekitar 30 meter. Pada sisi lain menjulang tebing batu Cadas gantung setinggi lebih kurang 20 meter. Di bagian bawahnya tumbuh pembohong tanaman.

Lokasi bendung ini ada di bagian hilir Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Lamajan yang dibangun Belanda pada tahun 1920-an. Tenaga listrik yang dihasilkan pada mulanya untuk penerangan Kota Bandung, khusus daerah yang dibuat hunian mereka.

Dengan dibangunnya Bendung Cikondang, maka air Sungai Cisangkuy di bagian hilir PLTA Lamajan terbagi dua. Sebagian debitnya mengalir melalui palung sungai lama dan sebagian lagi masuk dan mengalir melalui saluran yang dibangun oleh royong oleh penduduk lokal. Namun, pada awal pengembangannya ternyata tidak mudah mengalirkan air ke saluran tersebut.
Pada zaman dulu, upacara tersebut biasanya dimeriahkan dengan berbagai upacara pembukaan jadi menarik dibuat ajang silaturahmi sesama warga. Lurah atau kepala desa yang akan menghadiri upacara tersebut menaiki kuda lalu diiringi tetabuhan beduk, dog-dog, reog, dan kesenian kendang penca. Mereka menyusuri tanggul saluran jauh lebih kurang tiga kilometer. Sepanjang perjalanan, masyarakat bersorak-sorai gembira mengiringi pimpinan desanya.

Akan tetapi, upacara yang mengiringi upacara tersebut makin lama semakin berkurang. Salah satu mengapa adalah kesenian-kesenian tradisional tersebut sudah berguguran. Lisan, tahun ini, upacara hajat solokan hanya dimeriahkan kacapi yang
diiringi Amih Sarifah, jurukawih yang usianya sudah setengah abad.



AIR bagi petani adalah sumber kehidupan. Tanpa air, sawah dan ladang
akan kering sehingga tanaman padi dan palawija mati dengan sendirinya.
Tanpa air, mereka akan kehausan sampai akhirnya mati perlahan-lahan.
Karena itu, sebelum nasib buruk menimpa, masyarakat Cikondang, Desa
Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung (Jawa Barat),
menyelenggarakan hajat solokan setiap tahun.

Penulis : Dadan Sukarya ( 18123037) 

Sumber : Dokument situs rumah adat cikondang
Sumber poto: koleksi WordPress.com

Doma Garut


(Koleksi photo : https://www.google.com/search?q=adu+domba&safe=strict&client=firefox-b-m&source=lnms&tbm=isch&sa=X&) 

       Pada saat jaman belanda. Abad ke 18 Belanda ingin menyebarkan domba untuk di kembang biakan di indonesia. Limbangan adalah potensi yang dijadikan belanda untuk membudidayakan dombanya mengingat pada saat itu limbangan adalah tempat dimana orang orang kebanyakan orang adalah peternak domba nila kuda ayam dan lainya. Menurut abah Wandi sebagai pemilik doma garut yang biasa mengadakan perlombaan menjelaskan bahwa.
         Jaman dahulu Belanda membawa beberapa ekor domba merino dari (australia) untuk di sebarkan dan di budidayakan. Diantaranya Belanda memberikan   1 pasang jantan betina ke pada bupati suryakanta legawa limbangan dan diurus oleh bupati hingga punya anak betina bernama si Lenjang. si lenjang punya perawakan agak besar daripada domba lokal di garut badan yang lurus tidak berat ke perut atau tinggi ke punggung atau biasa disebut tonggong leceng. 
       Kaki kaki yang sama panjang ngaregang. Kuku ngukuh atau kuku kuku yang yang bagus. Saat itu bupati suryakanta ingin bermain ke pedepokan dulu dengan niat ingin bersilaturahmi kepada gurunya di pondok pesantren. pada saat bupati suryakanta pergi ka pasantren haji sholeh. Ia melihat haji sholeh sedang ngangon domba dombanya. Disitulah bupati suryakanta tertarik terhadap domba yang pada saat itu haji sholeh sedangmemandikan domba, si dewa namanya. Ia ingin si dewa di jalangkeun atau di kawinkan dengan si lenjang yang ada di rumahnya. Bupati membawa si lenjang ke pesantren haji sholeh untuk di jalangkeun dengan si dewa hingga akhirnya mempunyai anak jantan si tablo. Si tablo memiliki perawakan yang bagus dan kuat diantaranya 
1. tanduk ngabendo atau tanduk yang bulat kebelakang seperti bendo melingkar memutari telinganya. 
2.bebengetan kuda yang artinya memiliki wajah yang seperti kuda. 
3.Panon kupa atau panon jalak yang artinya memiliki mata hitam tajam seperti gagak. 
4. Tonggong lenceng yang artinya punggung yang lurus dari kepala sampai ke ekor adalah menurun yang lurus tidak berat ke perut atau naik ke pinggul
5. kuku ngukuh artinya kuku yang bagus
6. Ceuli rumping yang artinya adalah memiliki telinga yang pendek atau biasanya disebut ceuli nyempil atau ceulina sauted yaitu hanya sebagian kecil saja telinganya yang terlihat berarti memiliki telinga yang lebih kecil dan pendek dari kebanyakan domba yang lainya
7. Memiliki perawakan yang tegap seperti singa terlihat kuat dan dari bagian kepala sampai ekor itu menurun tetapi tidak terlalu menurun dan juga lurus tidak bengkok terlihat lebih gagah ini biasa disebut awak maung
8. Memiliki ekor yang berisi lebih panjang dari domba biasanya dan memiliki kanjut laer atau memiliki kelamin yang besar panjang.
9. Suku ngarenjang atau memiliki komposisi kaki kaki yang seimbang dan sama panjang sehingga memiliki perawakan yang terlihat kokoh tegak sempurna tegap dan terlihat lebih macho
Dan itulah ciri ciri domba yang siap di adu. Seperti si tablo. Domba yang menjadi domba kuat .
Di akhir abad 18 dan awal abad 19 
         Domba garut di urus dengan sangat baik. Hingga menghasilkan banyak domba domba yang berkelas. Kemudian pada tahun 18 akhir adu doma garut mulai sering dilakukan sebagai hobi diantaranya di daerah limbangan cikajang dan kemudian di awal abad 19 adu doma dikenalkan di daerah sumedang dan bandung selatan hingga akhirnya terkenal kesenian doma garut atau adu doma yang pada masa itu sering di sebut adu tangkas. Hingga akhirnya populer hingga saat ini.
       Domba garut sebenarnya sudah dikenali sejak lama. Tepatnya pada abad ke 8 di jawa tengah tepatnya di yogyakarta karena ditemukan relief domba 2 ekor domba yang tegap dan memiliki postur tubuh yang sama.persis seperti domba garut di candi prambanan.
         Namun pada saat itu sepertinya domba domba itu di gunakan sebagai penyembahan saja. Tetapi masyarakat jawa tengah mengakui bahwa domba garut adalah domba yang terlahir kembali karena pada jaman dahulu domba tersebut sudah ada,  domba asli Kecamatan Cibuluh dan Kecamatan Wanaraja Garut telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu, jauh sebelum Domba-domba impor dimasukkan ke Indonesia.
       Bahkan yang perlu dikaji, baik secara historis mau pun sosiologis mengenai keberadaan salah satu relief pada situs yang terdapat di Candi Prambanan, pada situs tersebut terlihat dua ekor domba yang saling berhadap-hadapan sebagai hewan persembahan, ke dua domba tersebut, memiliki beberapa karakteristik yang mirip dengan ciri khas Domba domba garut antara lain ceuli rumping mendekati rumpung dengan tanduk ngabendo, bebengeutan kuda , dan bulu pada bagian di seputar lehernya yang dibiarkan tumbuh memanjang (bulu yang saat ini dibiarkan terjurai di bawah leher pada Domba Garut atau disebut nyinga, merupakan modifikasi dari pola pencukuran bulu pada waktu itu), artinya domba pada situs tersebut sangat mirip dengan performa Domba Garut yang pada abad ke delapan, telah ditemukan di daerah Jawa Tengah, domba tersebut dipandang sebagai domba terbaik dari domba-domba yang ada pada masa lalu, karena tidak mungkin domba yang berkualitas rendah dijadikan hewan persembahan yang diabadikan dalam bentuk relief pada sebuah candi yang besar, sekelas Candi Prambanan.



Penulis : Moch. Dava RM ( 18123030) 
Sumber : https://www.google.com/search?q=domba+di+candi+prambanan&safe=strict&client=firefox-b-m&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwijitTYqJXiAhW773MBHU9JBoUQ_AUIBigB&biw=396&bih=708#mhpiv=3&spf=1557640944500
Koleksi photo : https://www.google.com/search?q=adu+domba&safe=strict&client=firefox-b-m&source=lnms&tbm=isch&sa=X&

Rabu, 15 Mei 2019

Beluk Engko


(1001indonesia.net) 


   Beluk engko adalah seni bertutur Sunda khas masyarakat Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Meski masih bertahan, keberadaannya sudah sangat langka. Senimannya yang disebut juru beluk atau juru alok berkreasi melagukan ragam bacaan (pupuh) dengan irama meliuk-liuk bernada tinggi.

   seni ini terinspirasi oleh kebiasaan masyarakat agraris Sunda saat berladang. Karena jarak antarladang yang berjauhan, para petani berkomunikasi dengan teriakan dan lengkingan. Dasar dari  beluk engko adalah pupuh, baik magatru, kinanti, asmarandana, sinom, dsb. 
   kesenian ini menjadi salah satu sarana penyebaran agama Islam di tatar Sunda karena syairnya sering ditulis huruf Arab berbahasa Sunda atau aksara pegon.

   Seni ini populer di kalangan masyarakat sekitar Kabupaten Bandung hingga akhir 1950-an. Beluk mengisi acara selamatan sunatan dan perkawinan, menjadi sarana masyarakat bersilaturahmi. Masyarakat dapat belajar darinya karena 
   Juru beluk dianggap terpelajar karena bisa membaca huruf arab pegon dan latin saat tak banyak orang di Kabupaten Bandung bisa membaca. Dulu, tujuh belas pupuh yang menjadi dasar dari seni ini diajarkan di sekolah rakyat.
    Seni ini hidup dan berkembang di daerah Cimaung seperti di Desa Ciawitali, Pasirhuni, dan Cimaung. Namun, yang bertahan sampai sekarang adalah di Cimaung. Dalam pementasannya, pemain dan juru alok bebas menyanyikan cerita dengan nada-nada khas, namun tidak terhalang oleh pupuh. sejak 1970-an, beluk engko tidak lagi mengisi acara-acara yang diadakan masyarakat. Pupuh Sunda juga tidak lagi diajarkan di sekolah. Hal ini membuat seni ini semakin langka. Saat ini, hanya di Kecamatan Cimaung saja .
   Abah Unen, satu-satunya pewaris kesenian ini bahkan bisa disebut generasi terakhir mengungkapkan minimnya perhatian pemerintah terhadap seni beluk engko dan eksistensi kesenian ini di daerah asalnya. Keinginannya untuk melestarikan kesenian ini juga terhalang dengan tidak adanya generasi muda yang mau belajar kesenian khas Sunda ini. Bahkan untuk saat ini beluk engko .   Bah Unen yang merupakan generasi yang melestarikan senior beluk engko ini juga mengungkapkan perasaan khawatirnya terhadap kesenian khas Cimaung ini kompilasi ditemui di kediamannya di Desa Campakamulya, "Terus terang, saya percaya, senior beluk , "ungkap Bah Unen.
    Sampai sekarang Bah Unen masih kesulitan dalam menemukan generasi penerus. Sementara ini banyak mengandung nilai dan falsafah tentang kehidupan. 
   Seni beluk engko mengangkat tentang kisah atau wawasan tentang masa kerajaan lampau yang membentuk pupuh. 
   Sampai sekarang Bah Unen masih kesulitan dalam menemukan generasi penerus. Sementara ini banyak mengandung nilai dan falsafah tentang kehidupan. 
   Seni beluk engko mengangkat tentang kisah atau wawasan tentang masa kerajaan lampau yang membentuk pupuh. Selain itu, naskah yang diterjemahkan menggunakan huruf pegon (huruf Arab) yang menerima Sunda. Karena itu, Bah Unen menentukan alasan mengapa generasi muda dan masyarakat tidak menunjukkan ketertarikannya pada seni beluk engko ini.
     "Baru-baru ini saya mentas di Babakan Siliwangi, Tamansari Bandung jelang bulan Ramadhan. Saya sangat senang, senang masih ada yang memperhatikan senior beluk engko," ujar Bah Unen.  

Penulis  : Dadan Sukarya (18123037) 
Koleksi photo : 1001indonesia.net
Sumber : wawancara Abah Unen, campaka mulya, rabu, 8 mei 2019

Selasa, 14 Mei 2019

Kesenian Goong Renteng


(koleksi  foto STSI Bandung) 

    Oke guys kali ini ada yang unik , kesenian ini sangat erat dengan ritual . Intinya sih semua kesenian tidak terlepas dari hal-hal mistis. Nah kali ini mimin akan bahas tentang “ Goong Renteng “ . Pasti temen-temen semua baru mendengarkan , sama mimin juga hihi…. Yaudah yuk kita baca Apasih itu Goong Renteng.
      Berdasarkan catatan-cacatan yang mimin baca dan dengar dari para tokoh masyarakat. Awal keberadaan atau lahirnya Goong Renteng diperkirakan pada akhir abda XVII di daerah Sukamulya yang kaya itu belum berbentuk kelurahan dan masih berbentuk desa. Bahkan namanya bukan Sukamulya tapi desa Cipanas dan berada di dalam wilayah kecamatan Kuningan.
   Kuningan merupakan bagian dari wilyah kesultanan ( sekarang Keresidenan ) Cirebon. Seoerti yang kita ketahui bahwa Cirebon merupakan sentral penyebaran dam perkembangan agama Islam. Jadi  tidak heran banyak pengaruh berbagai bidang salah satunya masalah sosial budaya yang kuat di daerah Kuningan. Dan Kehadiran Goong Renteng adalah merupakan bukti pengaruh bidang sosial budaya.
Hadirnya Goong Renteng di Kelurahan Sukamulya dibawa oleh  seorang tokoh bernama Raksaja. Beliau adalah salah satu tokoh Islam yang tinggal di desa Cipanas, Sukamulya sekarang. Goong renteng ini dibawanya dari Cirebon di beli dari Buyut Anjung (  Pangeran Pagongan ) dengan harga 750 ( tujuh ratus lima puluh ) mata uang Belanda . Untuk mendapat Goong Renteng tersebut Raksaja berupaya memesannya dalam waktu dan proses yang lama. Ini di lakukan agar Goong Renteng yang di pesan berkualitas. Dan sebelum di bawa ke Sukamulya Ia mengecek kualtasnya. Goong Renteng tersebut di buat dari perunggu.
    Setelah Goong Renteng tiba di Sukamulya. Masyarakat sangat antusias untuk belajar dan di mainkan, hingga di pentaskan. Dan setiap bulan Maulud suka di lakukan proses pemeliharaan yaitu dengan mencucinya. Biasanya setelah itu baru dipentaskan.  Dan setelah banyak perhatian dari masyarakat jadi ini menjadi budaya yang sangat unik dan menarik. 
Gimana guys seru dan membuat menasaran kan hehe……. Kita klanjut guys hehe
      Pendapat  Jaap Kunst dan Erust L.Heins pada dasarnya memiliki kesamaan, yaitu definisinya didasarkan  pada arti kata “ Goong “ yang diartikan dengan “ gamelan “ dan arti kata “ Renteng “  yang artinya didasarkan  pada bentuk dan penyusunan waditranya pada ancak yang disusun secara berangkai ( berjejer ).
“ Istilah Goong Renteng biasa disebut Degung Renteng, Gamelan Renteng yaitu sekelompok waditra yang perkusi  yang digunakan sebagai sarana upacara Mauludan Nabi Muhammad SAW.” ( dalam buku Khasanah Kesenian Daerah Jawa Barat karya Atik Soepandi. 1983:65)
Pada perkembangan tidak pernah ada kebudayaan yang statis secara absolut. Bagaimana pun juga keadaannya,kebudayaan selalu mengalami  perubahan.
Oke guys segitu dulu ya info dari mimin, kalo temen temen penasaran dengan kesenian ini datang saja ke daerah Banjaran……
Penulis : Muhamad Wildan Sopiandi (18123004)
Sumber : 1. Skripsi Kalsim (1997 )
  2. Buku Khasanah Kesenian Daerah Jawa Barat karya Atik Soepandi
Koleksi Photo :  STSI Bandung 

Sabtu, 11 Mei 2019

KESENIAN CALUNG



(koleksi chanel you tobe kang Yayan jatnika) 

Hallo people kali ini ada yang unik nihh hehehe..  Di baca yaa.. 
Calung terbuat dari bambu coklat kehitam hitaman atau yang disebut dengan bambu hitam. Kalau dalam Bahasa sunda “awi hideung” oleh karena itu calung terbuat dari awi wulung. Wulung itu dalam Bahasa Indonesia hitam. Dulu,sepertinya jika dalam Bahasa sunda yaitu di ti’ir menggunakan tambang,dan diikatkan kepohon lalu seblahnya diikatkan ke pinggang. Permainannya itu ditabuh hanya oleh satu orang/sendiri. Sambil ditabuh seperti gambang. Sekedar untuk menghibur diri/ perlipur lara disaatsetelah lelah bekerja. Dahulu,calung tidak berbentuk seperti sekarang ini. 


Kita angkat dari seorang legendaris calung yang akhirnya di beri gelar sebagai “Raja Calung” oleh masyarakat hingga diberi gelar oleh Universitas Padjadjaran tahun 2009 digelari “THE PENOMENON” dan yang diberi gelar sebagai Raja Calung THE PENOMENON ialah alm. “DARSO HENDARSO” mengapa beliau diberikan gelar sebagai THE PENOMENON? Karena beliau orang yang sangat fenomenal dari keberhasilannya merintis calung dan tidak tergoyahkan oleh kakaknya yang sekaligus pencipta lagu “UKO HENDARTO” beliau mendirikan calung itu tahun 1968 yang bernama Layung Sari. Dulu menghibur dari kampung ke kampung sampai akhirnya calung itu dikomersialisasikan dengan berbentuk hiburan,sering dipanggil dalam hajat hajatan serta tahun 70an diperdagangkan lewat kaset kaset pita,kaset cd,dan kepanggung panggung. Dalam Layung Sari tersebut penata gendingnya ialah Uko Hendarto kakaknya. Di daerah kampung cibarengkok kecamatan sukajadi yang sekarang menjadi jalan Pasteur doktor junjunan dan disitulah berdiri “Layung Sari”.  Guys kenal Darso??? Pasti dong..  Banyak karya juga liat aja di youtube banyak lohhh..  Hihi

  Dulu, pertunjukan calung itu dulunya sebagai media hiburan,sering disempilkan sempal guyon/lawakan lawakan dan melihat dari perkembangan masa ke masa pertunjukan calung semakin booming sekali apalagi ketika telah banyak kaset kaset dan cdcd calun,juga panggungan hingga ke beberapa daerah jawabarat. Perkembangannya sangat pesat dan ditampilkan oleh seorang legendaris  calung sampai sangat laris ke pelosok pelosok daerah terpencil. Dan bukan hanya di panggung saja,calung pun sering digunakan dalam ceremonial ceremonial atau acara event besar. Dan sekarang calung tidak hanya di kampung kampung saja. Seperti event pemerintahan dll. Perkembangan sekarang ada penambahan waditra seperti bas gitar melody suling saxophone dll,tetapi lebih didominankan calung. Pertunjukan calung,di modifikasi dan di modernisasikan.  
Calung itu pernah merajai disetiap pertunjukan apalagi di hajatan hajatan. Pertunjukannya tidak hanya siang,calung pun bisa di tampilkan pada malam hari dan justru lebih sering ditampilkan pada malam hari. Lalu perkembangan calung dilanjutkan pada tahun 1963, bentuk permainan dan tabuhan calung lebih dikembangkan lagi oleh kawan kawan dari Studiklub Teater Bandung (STB; Koswara Sumaamijaya dkk) dan diantara tahun 1964-1965 calung lebih dimasyarakatkan lagi oleh kawan kawan di UNPAD sebagai seni pertunjukan yang bersifat hiburan dan informasi (penyuluhan (Oman Suparman,Ia Ruchiyat,Eppi K., Enip Sukanda,Edi,Zahir,dan kawan kawan) 


Perkembangan kesenian calung begitu pesat di jawa barat,bentuk kreatifitas dalam seni pertunjukan calung semakin bervariasi dengan beberapa menambahkan alat music dalam calung,misalnya kosrek,kecapi,piul(biola) dan bahkan ada yang melengkapi dengan keyboard dan gitar. Unsur vokal menjadi sangat dominan,sehingga banyak bermunculan vokalis calung terkenal seperti Adang Cengos dan Hendarso. Pengen liat video nyaa..  Langsung aja ke chanel you tobe kang Yayan jatnika okeeeeeeee......  Guys.... 


Penulis : Muhammad Bielsha Rizhan Jatnika ( 18123040) 
Sumber : Yayan Jatnika 
Koleksi photo dan video : Yayan jatnika 

Kesenian Ronggeng Gunung




(koleksi photo dan video dari Teh Dessy) 


Hai teman-teman pasti sudah tidak asing lagi mendengar Kesenian Ronggeng Gunung terutama didaerah Pangandaran. Apalagi yang asli orang sana hihi..  Kali ini mimin akan bahas nihhh... 
Ronggeng Gunung adalah sebuah kesenian tari yang tumuh berkembang di wilayah Ciamis Selatan dan Pangandaran, yaitu seperti daerah Payutran,Ciparakan,Banjarsari,Burujul,Pangandaran dan Cijulang.
Oh iyah, secara umum kesenian ini hampir sama dengan ronggeng pada umumnya loh teman-teman! Yakni dicirikan dengan penampilan satu orang atau lebih penari yang dilengkapi dengan alat musik dan nyanyian atau kawih pengiring.
Ronggeng adalah perempuan yang memiliki banyak peran dalam kesenian ronggeng gunung. Dalam setiap pertunjukan kesenian tersebut, dia akan bertindak sebagai penari sekaligus sebagai penyanyi (juru kawih). 
Menurut Bu Raspi dan Dessy Sri Rahayu yang sekaligus pelaku dari kesenian ini menyatakan bahwa Ronggeng Gunung ini tercipta dari kisah seorang Putri (Dewi Siti Semboja) anak ke-38 Prabu Siliwangi yang dimana seorang kekasihnya dibunuh oleh  sekelompok prompak Kalasamudra “(kasian yah ()”

Mimin ceritain lagi yah teman-teman biar kalian tahu!
Pada saat itu pangeran Anggalarang dan Dewi Siti Semboja beserta pasukan sedang dalam perjalanan dari Ciamis menuju Pangandaran. Ketika di tengah perjalanan merekan dihadang oleh perompak kalasamudra, terjadilah pertempuran antara kawanan perompak dan pasukan Anggalarang. Pertempuran itu menyebabkan pangeran Anggalarang terbunuh oleh kawanan perompak, melihat kejadian tersebut Dewi Siti Semboja berlari menuju kaki Gunung dan bersembunyi sselama beberapa hari. Dewi Siti mempunyai rasa dendam kepada perompak tersebut, kemudian dia mempelajari tarian Ronggeng Gunung dan menyamar sebagai penari. Pada saat yang ditunggu tiba, Dewi Siti dapat undangan untuk menari ditempat Kalasamudra dan disitulah dendam terbalaskan.

Konon katanya cerita tersebut diyakini benar adanya oleh masyarakat karena warga menemukan artefak alat musik yang sudah lama terkubur. Contohnya, seperti gong.
Alat musik yang digunakan dalam Ronggeng Gunung hanya beberapa saa, yaitu terdiri dari gong,kendang dan ketuk saja. Namun seiring berjalannya waktu Ronggeng Gunung  sudah menggunakan seperangkat gamelan. Pemain Ronggeng Gunung terdiri dari 6 orang, kemudian untuk juru kawih dari Ronggeng Gunung mengambil orang yang sudah matang atau lanjut usia. 
Menurut Dessy Sri Rahayu ia merupakan penari Ronggeng gunung menyatakan bahwa pada jaman dahulu menjadi penari Ronggeng Gunung tidaklah mudah “ ketika ingin belajar tari Ronggeng Gunung saya harus melalui proses panjang dan melelahkan. Kemudian calon penari harus tinggal di rumah sang guru selama 3 bulan lamanya” ucap Dessy. Untuk menjadi penari ronggeng tidak ada batasan usia, untuk anak-anak dibawah umur juga diperbolehkan untuk menjadi penari ronggeng Gunung. 
Tari ronggeng gunung berfungsi sebagai penghibur dimasyarakat setempat. Selain menghibur tari ini juga sebagai pengantar upacara adat. Seperti, khitanan,perkawinan , panen pare,dan lain-lain. 
Penulis : Baldan Ramdlan Rifano ( 18123016)
Sumber : Teh Dessy dan  Bu Raspi
Koleksi Photo dan Video : Teh Dessy